Sebuah Kenangan
Hari sabtu, petengahan bulan agustus ’99. Aku masih ingat hari itu. Hari itu mengawali sejarah hidupku merasakan apa yang orang dewasa rasakan… sedih dan senang bila ku ingat hari itu dan hari-hari setelah itu. . dan sampai saat ini.
Saat itu aku duduk kelas 2 smp, disebuah smp favorit dikotaku. Aku pun menikmati pendidikan, pergaulan seperti halnya teman-teman sebayaku. Setelah pulang sekolah, aku disuruh ibu guruku membeli sebuah buku pelajaran – Matematika – ke kota. Seperti biasa aku minta ibu untuk dibeliin, aahh tp ibu sibuk. Minta sama kakak, tp kakak juga sibuk, dan ayah ada diluar pulau. Siapa lagi yang mau dimintain tolong???
Antara rasa takut dan memang harus beli, aku pun memaksakan diri untuk berangkat ke kota, naik bus kota sendirian – itu pertama kalinya aku naik bus sendirian… Takut????? Aahh Pasti lah…!!!! Bingung??? Jelas..!!!
Tapi skenario ini telah Tuhan tuliskan buat ku, yg nantinya aku akan merasakan untuk pertama kalinya apa itu CINTA…
CINTA yang orang dewasa agung-agungkan, yang membuat orang dewasa merasa bahagia, sedih, yang membuat orang dewasa tersenyum, tertawa maupun menangis…
- Pertemuan pertama
Cuacapun panas… setelah dapat buku itu, aku langsung pulang naik bus yang sama. Ditengah perjalanan, panas dan bau tak sedap didalam bus, aku mencoba memejamkan mataku yang lelah. Tiba-tiba bus pun berhenti dengan mendadak. 10 detik kemudian naiklah 2 orang perempuan, gadis kecil dan ibu-ibu – yang tak lain adalah ibu dan anak. Seorang ibu yang terlihat ramah dan seorang gadis umur 12 tahun yang manis dan putih – putih pucat. Gadis kecil itu dengan tubuh yg kurus, kecil, jalannya pun terseok-seok, terhuyung-huyung karena bus yang melaju dengan seenaknya sendiri. Sang ibu menggenggam erat tangan anaknya – yg pasti jatuh apabila tidak dibantu berjalan. Tempat duduk penuh, mereka pun terpaksa berdiri.
Pandanganku tak lepas sedikitpun dari mereka. Lalu, entah apa yang aku pikirkan, aku berdiri dari kursiku, menatap ibu itu lalu tersenyum tanpa kata – hanya isyarat yang mengatakan “Ibu…silakan duduk dikursi saya, kasihan anak ibu”. Dan ibu itu tersenyum dan berkata “terimakasih banyak nak” padaku – menuntun anaknya untuk duduk dikursi tersebut.
Tak banyak dialog antara aku dan sepasang ibu dan anak itu, dan nyaris hanya ada suara si ibu yang terucap dan diikuti dengan senyumku – anak gadis itu tertidur dengan pulasnya.
Kota kecil, kota kelahiranku dan kota tempat tinggalku pun mulai kelihatan, aku turun sambil tersenyum pada mereka.
- Kenyataan
Tiga hari setelah kejadian di bus itu, di pinggir jalan aku bertemu kembali dengan ibu gadis yang pernah aku temui di bus itu. Dan tak banyak kata yang keluar dari mulutku, tapi entah apa yang terjadi padaku, ibu itu berhasil mengajakku untuk main kerumahnya. Dalam perjalanan ke rumah ibu itu, baru aku tahu nama mereka. Marina nama ibu itu dan Nadine anaknya.
Di dalam rumah, menunggulah Nadine diruang tamu, dengan wajah pucat dan lemas, seperti halnya boneka. Tapi bagiku, dia tetap terlihat cantik dan manis. Bibir Nadine mulai tersenyum saat bu Marina datang. Bu Marina berkata “coba tebak siapa yang ibu bawa?”, Nadine bingung… dan munculah aku dengan malu-malu. Obrolan pada hari itu mulai tidak canggung diantara kami bertiga, tapi masih sama, hanya suara bu Marina yang kerap terdengar.
Dan dari pertemuan kedua kalinya tersebut, aku tahu kalau Nadine selama beberapa tahun ini hanya sendirian, tak ada teman – karena sakit kanker darah yang dideritanya – hanya ibu nya saja yang menemani. Aku berada diantara rasa senang – karena bertemu sosok wanita special – dan rasa kasihan, sedih – karena wanita itu menderita – … Perasaan-perasaan itu terus berkecambuk dalam pikiranku. Bingung… apa yang terjadi padaku…???
Keesokan harinya setelah pulang sekolah, aku main kerumah Nadine, naik sepeda kesayangan selama 1 jam dari rumah. Kami bermain, bercanda, layaknya anak-anak sebaya kami. Menjelang sore aku pulang. Tiap hari aku tak pernah lupa untuk menjenguknya, mengajaknya bermain dan bercanda. Dari hari ke hari terlihat senyum, tawa bahagia dari wajah kami. Entahlah… apakah CINTA yang menciptakan senyum itu, senyum yang sebelumnya tak pernah muncul dari seorang gadis kecil yang kesepian, yang tiap hari harus melawan sakit, sakit yang semestinya bukan untuknya…
Genap 2 minggu sudah, keajaiban itu menghiasi hari-hari kami – hari-hari yang indah. Tanpa ada rasa khawatir kehilangan sedikitpun. Kami hanya berpikir kalau Tuhan hanya menuliskan skenario tentang bahagia, bahagia dan bahagia. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kami tidak peduli. Karena kami masih anak kecil.
- Kenangan Terakhir
Hari minggu pagi yang cerah, aku berencana mengajak Nadine untuk bersepeda. Tepat pukul 7 pagi, aku sudah siap didepan rumah Nadine. Tampaklah gagah aku bagi Nadine, dengan sepeda kumbang kesayanganku, layaknya sang pangeran yang siap diatas kuda untuk menjemput sang putri, berkeliling keseluruh negeri. Kami bersepeda melewati sawah-sawah dan pohon yang hijau, dibawah sejuknya udara pagi. Hanya ada canda dan tawa bahagia yang tersirat dari wajah kami. Tak pernah terpikir – kejutan apalagi yang akan Tuhan berikan buat kami.
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, aku bersiap-siap menjemput sang pujaan untuk berkeliling desa lagi, kali ini lebih jauh – janji aku pada Nadine. Pukul 3 sore, sampailah aku di depan rumah Nadine, tapi terlihat suasana yang aneh, tidak seperti biasanya. Rumah itu rame oleh orang-orang yang tidak kukenal. Ada orang yang menata kursi dan mengangkatnya pergi entah kemana. Ada yang beres-beres tikar. Layaknya habis selesai suatu hajatan. Tapi anehnya, tidak terlihat Nadine, yang seperti biasa menunggu ku di luar rumah. Kali ini ibu Nadine yang ada didepan rumah, datang menghampiriku, menangis dan memelukku, sambil berbisik pelan. Aku terdiam, pandanganku kosong – Tuhan telah mengambil belahan hatiku. Untuk selamanya.
Kutulis puisi ini di jantungmu,
Sayang… dulu waktu kau benar2 msh ada, kau tak pernah dengar ucapan sayang dari ku… pasti kau maklum, krn aku belum tau apa arti nya sayang, krn kita msh kecil.
Sayang… di dalam bumi memang gelap, tp itu bukan untukmu.
Sayang… di dalam bumi memang sesak, tp itu juga bukan untukmu.
Sayang… di dalam bumi memang menakutkan, tp itu tetap bukan untukmu.
Karena kau adalah wanita pilihan – bidadari yang akan menemaniku kelak di Surga.
Sayang… kau tak usah sedih, kau tak perlu merasa kesepian, karna ku kan selalu datang menemanimu, menghiburmu seperti kemarin. Bawalah selalu kenangan itu, yang akan selalu menemanimu, menghiburmu.
Dengarkan detak jantung ku, dia berkata “kan ku jaga kamu selalu”

kenangan manis kayaknya ya?
yup… lebih tepatnya knangan manis seseorang… ^_^